Memasuki Pintu Raja Abdullah

posted in: berita | 0

Berjalan dari arah gerbang pintu Raja Abdul Aziz, kemegahan gerbang pintu Raja Abdullah sudah terlihat. Saya seperti liliput ketika melewati pintunya yang besar menjulang tinggi.

Tinggi pintu sekitar tujuh meter dengan lebar empat meter. Ketebalan pintunya sekitar 15 sentimeter dan seperti terbuat dari kayu jati yang kokoh. Pintu itu seakan mewakili kemegahan bangunan gerbang (gate) Raja Abdullah yang menjadi bagian dari megaproyek perluasan kawasan Masjid al-Haram.

Renovasi Masjid Alharam memang bukan sesuatu yang baru. Bahkan, Rasulullah pernah ikut membantu merenovasi Ka’bah ketika usianya masih 35 tahun. Rasul dipercaya oleh suku Quraisy untuk meletakkan hajar Aswad ke tempat semula.

Ka’bah saat itu sempat diruntuhkan lebih dulu untuk keperluan renovasi. “Orang Quraish tidak berani meruntuhkannya karena takut mendapat bencana. Tapi, Walid bin Mughirah berkata, ‘Aku yang akan memulai meruntuhkan Ka’bah’,” tulis Prof Ali Husni Al Kharbuthli, guru besar sejarah Islam Universitas Ain Shams Kairo, dalam bukunya, Sejarah Ka’bah: Kisah Rumah Suci Yang Tak Lapuk Dimakan Zaman.

Dinginnya marmer putih langsung menyapa kaki ini ketika memasuki pintu Raja Abdullah. Rasanya seperti berada di pelataran Ka’bah yang konon berasal dari marmer Thassos yang berasal dari Yunani. Marmer itu memiliki efek dingin jika ditempa panas dan sebaliknya.

Abdul Mohsin bin Hamid, kepala peneliti Masjid Nabawi, pernah menjelaskan soal teka-teki mengapa lantai pelataran Ka’bah tetap dingin meski cuaca sangat panas. Marmer Thassos asal Yunani adalah jawabannya. Bahkan, kata Abdul Mohsin, setiap ruangan di dalam Masjid al-Haram tetap terasa sejuk meski cuaca panasnya sangat ekstrem.

Kemewahan berpadu kemegahan langsung tersaji ketika langkah ini memasuki area gerbang Raja Abdullah. Lampu-lampu mewah dalam ukuran besar bergelantungan di sepanjang lorong menuju tempat shalat. Lampu yang dibingkai ukiran emas itu juga bergelantungan di area tempat shalat. Bentuknya seperti lampu fanus khas Timur Tengah yang selalu diburu ketika bulan suci Ramadhan tiba. Dalam arsitektur Islam, lampu adalah perwujudan cahaya yang memberikan pencerahan bagi lingkungan sekitar.

Kemegahan gerbang Raja Abdullah semakin terasa dengan kehadiran pilar raksasa di sejumlah titik. Dihiasi ornamen emas, tiang-tiang megah di sana juga terlihat mewah.

Kemegahan dan kemewahan seakan mewakili gerbang Raja Abdullah yang memiliki 124 pintu masuk ini. Almarhum Raja Abdullah merintis proyek raksasa ini untuk memperluas area Masjid al-Haram sehingga bisa menampung dua juta jamaah. Megaproyek tersebut diharapkan rampung pada 2020.

Pada Agustus 2011, proyek ambisius senilai Rp 37,28 triliun tersebut dimulai. Area Masjid al-Haram diperluas dari 356.000 meter persegi menjadi 400.000 meter persegi. Salah satu wujudnya adalah pembangunan gerbang Raja Abdullah yang memiliki dua menara masjid.

Raja Abdullah meninggal dunia pada Januari 2015 dalam usia 90 tahun. Namun, proyek ambisiusnya tetap berjalan hingga detik ini. Sang penggantinya, Raja Salman, pada Juli 2015 lalu meluncurkan lima proyek perluasan Masjid al-Haram agar bisa mengakomodasi 1,6 juta jamaah.

Kemegahan dan kemewahan gerbang Raja Abdullah memang membuat siapa saja yang memasukinya berdecak kagum. Namun, kemegahannya tetap tidak mampu menggantikan rasa kagum ketika mata ini melihat Rumah Allah. Subhanallah

sumber berita